Survey's Experience

6 desember 2016, bertepatan di kelas D6 bersama orang-orang yang sama dan masih dalam keadaan yang sama sebagai mahasiswa yang lagi sibuk (cieh) dengan tugas dan prepare untuk ujian akhir semester tiba-tiba pengen nge-blog tentang cerita yang belum sempat terabadikan #hah

Jadi, 1 minggu yang lalu aku terlibat dalam sebuah survey untuk pilkada prov jambi pada suatu instansi, tapi yang aku mau ceritain disini bukan masalah pilkadanya tapi.. My first survey's experiance,.. #jengjeng

Jadi hari itu aku diajak salah satu temen untuk ikut ke sebuah event yang memang diadakan suatu instansi, dan awalnya juga masih kayak malas memusingkan diri, tapi karena temen aku bilang kalau kita ikut event itu kita bakalan dapet fee dan juga kerjanya kayak turun kelapangan, jadi akhirnya aku ikut-ikut aja itung2 untuk tambahan uang diakhir bulan #anakkos, dan akhirnya sampailah di tempat eventnya, singkat cerita mentor disana menjelaskan apa tujuan dari event itu, dan event itu seperti quick count yang biasa di tv2 dan ini khusus untuk daerah jambi, pikiran pertama aku sih coba ajalah dulu karena ini juga kayak meneliti dan pas banget semester ini ada mk penelitian jadi sekalian belajar gimana caranya survey populasi dan sampel.

Akhirnya kami dibagi-bagi dalam beberapa team dan juga dibagi daerah-daerah yang akan disurvey per teamnya, aku dapet bagian Rawasari B. Pertama aku fine-fine aja karena aku gak tau daerah itu sebenarnya, namun pas selesai acara temen aku bilang kalau rawasari itu adalah daerah Pucuk (Ini adalah daerah yang biasanya banyak orang yang melakukan me*um) agak ngeri juga awalnya, karena ditakutin terus akhirnya aku minta sama Supervisor tim aku pindah daerah, akhirnya dapet daerah lain walaupun didalam rawasarinya juga (nb: daerah seperti diatas hanya ada di satu RT saja, yang lainnya aman).

Akhirnya mulailah hari pertama turun lapangan, dapet responden 1, walaupun carinya mati-matian, aku ngerasa gimana perjuangannya para selles yang sering aku tolak pas mereka datang kerumah, walaupun aku bukan selles dan cuman mau wawancara sebentar aja, banyak masyarakat yang tidak mau menerima kami, walaupun itu sebenarnya untuk mereka juga, tapi aki bersyukur juga kalau aja aku gak ikut event itu mungkin aku gak tau ngerasanya cari uang yang alangkah luar biasa susahnya, mungkin aku gak bakalan tau banyak hal tentang pandangan masyarakat yang beda-beda banget, cara pandang yang sangat beda, keluh kesah mereka terhadap kinerja pemerintah, kadang aku ngerasa "gini ya rasanya blusukan" (eh?!), mungkin kalau aku gak ikut event itu aku gak bakalan ketemu kakek-kakek yang satu daerah sama aku, tapi sayangnya ia gak pernah nikah, jadi dia tinggal sendiri dirumah. Dengan rumah seadanya dan punya beberapa ayam, tapi entah kenapa sedih banget ngeliatnya, profesi beliau hanya seorang tukang pijit, yang kadang pelanggannya langsung kerumahnya atau beliau yang kerumah pelanggannya. Tapi dia bilang kalau pelanggannya juga gak setiap hari urut, (yakali pegel terus tu badan) jadi penghasilan beliau pas-pasan untuk makan, pas kami kerumah si kakek, kakek lagi masak nasi goreng tanpa bumbu "nasi ndoang" (bahasa kerinci) pas kami minta waktunya untuk wawancara sebentar beliau sangat ramah dan mempersilahkan kami duduk dikursi yang juga seadanya. Setelah agak lama perkenalan dari dialeknya kami tau kalau kakek orang kerinci dan satu desa dengan kami, mendengar kalau kami berasal dari satu desa, alangakah bersemangatnya sang kakek, ia menunjukkan rumah orang kerinci lainnya didekat rumahnya. Kakek itu memang sudah tua tapi pendengaran dan pikirannya masih sangat baik, setelah beberapa lama berbincang mengenai pemerintah, hal yang paling aku inget dari perkataan kakek yaitu "sapopun buleh jadi pemimpin, apolagi hang kinci, tapi hang kinci sabeh nak jadi pemimpin galo, tuh nyo dek maju-maju kincai" (siapapun boleh jadi pemimpin, apalagi orang kerinci, tapi kebanyakan orang kerinci itu banyak yang berebut mau jadi pemimpin, jadi karena itu kerinci gak maju-maju).
Setelah mendengar penuturan dari kakek agak spechless juga awalnya, kakek yang udah tua masih sangat peduli dengan kerinci asalnya, dan pelajaran lain yang aku ambil yaitu, siapapun itu walaupun itu anak kecil, orang yang udah sangat tua seperti sang kakek, orang bodoh dikelasmu, orang jelek, orang nakal bahkan narapidanapun, dari mereka kamu bisa belajar, hal sekecil apapun itu. Kamu pasti bisa dapet hal-hal positif dari mereka, walaupun kamu lebih kaya dari mereka, kamu lebih cantik atau ganteng dari mereka, kamu lebih pintar dan berpendidikan dari mereka, atau kamu merasa lebih baik dari mereka. Seburuk apapun mereka pasti ada satu hal yang kamu gak punya dari mereka, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekekurangannya masing-masing. So, pasti ada hal yang mereka punya tapi kamu gak punya, so kamu jangan sombong dulu karena kamu merasa lebih baik dari kamu. Tetap jadi diri sendiri, and don't judge someone from their cover, the cover can lie you, its just cover man!

0 Comentarios

Follow Me On Instagram