Tahun 2009
Itu hari pertama aku masuk SMP dikampungku, Semerap.
Aku memutuskan untuk bersekolah di kampungku setelah lulus dari SD 010 di
Batam. Hari itu tidak pernah kulupakan, bagaimana tidak banyak yang terjadi
hari itu, aku ditempatkan duduk paling depan, awalnya aku sangat senang karena
aku akan memiliki banyak teman baru. Tapi entah kenapa hari itu juga menjadi
hari sedih bagiku, karena banyak olokan dan ejekan yang aku terima. Menjadi
seorang wanita yang terlahir berkulit sawo matang dan wajah pas-pasan
seringkali menjadi sasaran bully-an bagi mereka yang haus akan hiburan. Aku diejek
“hitam” oleh cowok-cowok sekelasku dan juga kakak-kakak kelasku. Memang aku
menyadari dengan kulit sawo matang yang aku miliki ditambah aku lama tinggal di
Batam yang memiliki cuaca yang sangat panas, dua kali lebih panas daripada
Jambi tempat aku menimba ilmu sekarang. Awalnya aku biasa saja ketika diejek
seperti itu, aku tidak terlalu ambil pusing toh aku sudah kebal dengan ejekan
yang aku terima sewaktu aku SD, namun kian hari ejekan itu semakin membuat aku
gerah dan sedih, kadang aku menangis, namun aku terus mencoba membuktikan diri
supaya mereka tidak hanya melihat diriku dari fisik saja.
Hari kamis waktu itu, kelasku sedang berlangsung pelajaran
Bahasa Indonesia dan materi hari itu mengenai puisi, dan buk guru menuliskan
puisi berjudul “Menyesal” karya Chairil Anwar untuk dibacakan oleh siswa-siswa
satu per satu. Ketika bu guru menawarkan siapa yang berani mengajukan diri
untuk membacakan puisi tersebut, aku memberanikan diri untuk maju duluan, saat
itu banyak sorakan dari siswa lain yang aku terima, tampak mereka meragukanku,
aku bertekat akan melakukan yang terbaik yang aku bisa. Aku membacakan puisi
itu dengan lantang ditambah mimik yang aku buat secara spontan dan juga
penghayatan yang secara tiba-tiba aku rasakan didepan kelas. Seketika aku
merasakan kelasku senyap dan menyimakku membacakan puisi itu dengan serius
termasuk buk guru yang mengajar. Setelah aku menyelesaikan membacakan puisi
tersebut aku diberikan tepuk tangan oleh buk guru dan disusul oleh
teman-temanku yang lain. Banyak yang kurasakan hari itu, nervous, bangga, lega,
dan juga teman-temanku mulai menerimaku dan melabeli ku dengan “Irma yang bisa
membacakan puisi itu….”
Tak terasa kelas VII hampir berakhir sebelum kami
menerima raport, sekolah kami mengadakan Class Meeting berupa penyelenggaraan
beberapa ekstrakulikuler guna menunjang skil ekstrakulikuler siswa, banyak
ajang yang dilombakan seperti futsal, badminton, volley ball, tenis meja,
puisi, ceramah, nyanyi dan lainnya. Aku direkomendasikan wali kelasku untuk
mengikuti ajang puisi. Dan akhirnya aku mengikuti ajang itu dengan beberapa
peserta lainnya, dan hasilnya cukup mengejutkan ku, aku memperoleh juara 1 dari
pembacaan puisiku yang bertajuk IBU itu. Dan aku dipercayai untuk mewakili
sekolah untuk mengikuti ajang musikalisasi puisi di tingkat Kabupaten di acara
Festival Danau Kerinci, aku bangga dan bahagia, kurasakan pembully-an itu mulai
berkurang dan jarang aku dengar. Sejak itulah aku mulai membuka diri dan tidak
tinggal diam ketika harga diri kita diinjak-injak. Jika kita punya mimpi
apapapun yang kita harus berusaha menggapainya. Bukan hanya untuk kita tapi juga
untuk membuktikan pada orang lain bahwa mereka harus melihat bagaimana kita
sebenarnya dan membuktikan pada mereka salah besar jika mereka menyimpulan
seseorang hanya dari fisiknya saja.
Aku tau manusia pasti melihat terlebih dahulu dari
fisik seseorang, dia tinggi, pendek, hitam, putih, cantik, jelek, kurus,
langsing, gendut, pesek, mancung semuanya dilihat dari fisiknya dan mereka
berasumsi, “oh, dia putih jadi dia cantik sedangkan dia hitam jadi dia jelek”
no, tidak semudah itu. Aku banyak menemukan cewek cantik, putih, tinggi,
mancung, langsing. Tapi dia lemah di akademik, dia cukup kewalahan mengikuti pelajaran,
tapi ada cewek yang gendut, hitam dan jelek namun ia sangat cemerlang di
bidang akademik, ia bisa menguasai apa
yang dipelajari dan menjadi juara kelas atau memiliki IPK yang tinggi, see? Dari
banyak hal yang aku lihat sampailah aku kepada kesimpulan bahwa, “semua orang
itu memiliki kelebihan dan kekurangan” tergantung kita melihat dari sisi mananya.
Tapi yakinlah, serendah apapun dia se-annoying apapun pasti ada kelebihan yang
ia miliki daripada kita.
Sebagai mantan korban bully-an banyak yang aku
rasakan, ketika kita menjadi objek bully-an, kita akan merasakan tekanan mental
yang besar, kita menanamkan pada diri kita sendiri bahwa kita adalah korban
yang sangat menyedihakan, kita merasa tidak memiliki teman dan seseorang yang
peduli, kita megalami krisis percaya diri, merasa bahwa kita itu sangat rendah,
mindset seperti inilah yang tertanam oleh seorang korban bully-an, jika dia
tidak bisa bangkit dan menata ulang mindset itu maka dia akan tumbuh menjadi
seorang introvert dan anti-sosial serta sulit mencari dan membangun kepercayaan
diri, selalu memandang segala sesuatu dengan pandangan negative dan lebih
parahnya lagi seseorang bisa Bipolar/gila.
So, bagi teman-teman yang sampe saat ini masih suka
membully orang lain dan hanya menganggap itu hanya untuk seru-seruan, Please
STOP!! Karena kalian gak tau apa yang harus dilalui si korban disaat kalian
hanya menganggap itu sebuah hiburan.

0 Comentarios