Assalamualaikum
Hallo.. ada orang?
Hari ini mau cerita random, apa yang udah dilaluin selama terakhir kali nulis di blog ini, blog yang mulai terlupakan.
Secara gak sadar ternyata kehidupan itu jalan terus, aku yang kemaren perasaan baru masuk kuliah sekarang udah semester 6 wich is bentar lagi mau skripsian, perasaan baru rasanya PKK di kampus bentar lagi udah mau jadi alumni. Bentar lagi kayaknya kehidupan bakalan jadi lebih serius, bakalan banyak pressure yang datang dari lingkungan.
Bahkan yang dulu pas kumpul-kumpul sama temen-temen, topik yang dibahas adalah drama korea, weekend mau kemana, atau hal yang gak penting lainnya, tapi sekarang semua orang udah bahas topik yang serius about their future kayak, "target nikah lo umur berapa?" "mau punya anak berapa?" "Tipe suami idaman kayak gimana?". Bahkan temen-temen aku sampai bisa nargetin gitu dia pengen nikah umur sekian, punya anak sekian, punya rencana yang udah terstruktur banget untuk kehidupannya kedepan.
Kadang kala pas topik ini dibahas, aku cuman diam kayak masih bingung dan gak berani nargetin apa-apa, karena memang aku belum kepikiran hal yang sejauh itu. Aku cuman bisa fokus ke apa yang aku hadapin sekarang, kalo misalnya kayak sekarang nih, lagi mau selesain S1, yaudah fokus aja dulu ke S1, gak punya pikiran nanti selesai S1 mau kemana?, mau kerja apa?. Karena kalo aku pikir-pikir ya, it's just a plan, jadi nanti kalau ekspetasi kita terlalu ketinggian mau ini mau itu, kalo gak kecapaian kita bisa kecewa dan galau karena ekspektasi kita terlalu tinggi, jadi aku kerjain apa yang didepan mata, aku fokusin kesempatan yang datang waktu itu. Step by step. Gak mau terlalu terburu-buru.
Banyak hal baru yang membuka mataku, banyak hal yang kadang aku gak sadar menjadi kelebihan sendiri. Dulu aku yang selalu over atau berlebihan dalam menghadapi sesuatu sekarang banyak mindset aku yang berubah, akupun bingung kenapa bisa berubah, apa karena pergaulan ataupun orang-orang di media sosial yang secara gak langsung ngerubah cara pandang aku melihat dunia ini gimana.
Dulu aku ngerasa aku adalah orang yang selalu merendahkan diri, entah itu aku merasa beda sama orang lain, merasa orang lain lebih kaya, lebih punya karir cemerlang sedangkan aku kayaknya masih jalan ditempat, aku lebih senang ngecompare diri sendiri daripada mencari kelebihanku sendiri. aku merasa itu udah menjadi takdir bahwa aku memang begini, dan ini adalah hal yang harus kamu jalani. Aku yang selalu merasa gak bisa bergaul dan punya banyak teman. Aku yang merasa gak penting bagi siapapun. Waktu itu aku kayak menjudge diri sendiri, dan udah ngeclaim diri sendiri as a victim of the world.
Tapi selama aku kuliah aku mulai membuka diri, mulai melihat kelingkaran yang berbeda, mulai memahami esensi dari pergaulan itu seperti apa, mulai make my weakness as my value. Hal-hal seperti itu bergejolak dan sering aku pertanyakan di dalam diri sendiri. Apa bener aku seburuk itu? Apa bener aku gak pantas untuk menjadi seseorang yang lebih baik? Apa hidupku seburuk itu? Aku jadi mikir ulang, kalo misalnya seburuk itu, segak berharga itu, untuk apa Allah masih kesempatan hidup, bukankah artinya masih ada harapan untuk menjadi seseorang as i want.
Aku sadar dengan ngejudge dan ngeclaim diri sendiri buruk itu gak menyelesaikan masalah, bukan berarti dengan mengclaim diri sendiri buruk esensi menjadi manusia dan tugas serta tanggung jawab kita sebagai manusia dilupakan.
Dulu aku adalah orang yang pintar membuat rencana, selesai SMA aku kuliah jurusan ini, trus aku lulus umur sekian nanti aku lanjut S2 trus punya pekerjaan yang bagus kemudian nikah dan punya anak, like a wonderful life without problem. Sampe akhirnya ekspetasi pertama yang aku rencanakan itu gak sesuai dengan realita yang terjadi, ya aku gak lulus dijurusan yang aku dapetin, dan setelah moment itu aku jadi galau dan gak bisa menikmati hidup dan proses kehidupan, dengan berekspetasi terlalu besar membuat ketakutan kita untuk gagal juga terlalu besar, aku terlambat menyadari hal itu. Sehingga momen-momen galau itu aku rasain.
Setelah itu aku takut berekspetasi lagi, tapi bukan berarti aku ogah-ogahan tapi lebih kayak just focus on things in front of me.
Hallo.. ada orang?
Hari ini mau cerita random, apa yang udah dilaluin selama terakhir kali nulis di blog ini, blog yang mulai terlupakan.
Secara gak sadar ternyata kehidupan itu jalan terus, aku yang kemaren perasaan baru masuk kuliah sekarang udah semester 6 wich is bentar lagi mau skripsian, perasaan baru rasanya PKK di kampus bentar lagi udah mau jadi alumni. Bentar lagi kayaknya kehidupan bakalan jadi lebih serius, bakalan banyak pressure yang datang dari lingkungan.
Bahkan yang dulu pas kumpul-kumpul sama temen-temen, topik yang dibahas adalah drama korea, weekend mau kemana, atau hal yang gak penting lainnya, tapi sekarang semua orang udah bahas topik yang serius about their future kayak, "target nikah lo umur berapa?" "mau punya anak berapa?" "Tipe suami idaman kayak gimana?". Bahkan temen-temen aku sampai bisa nargetin gitu dia pengen nikah umur sekian, punya anak sekian, punya rencana yang udah terstruktur banget untuk kehidupannya kedepan.
Kadang kala pas topik ini dibahas, aku cuman diam kayak masih bingung dan gak berani nargetin apa-apa, karena memang aku belum kepikiran hal yang sejauh itu. Aku cuman bisa fokus ke apa yang aku hadapin sekarang, kalo misalnya kayak sekarang nih, lagi mau selesain S1, yaudah fokus aja dulu ke S1, gak punya pikiran nanti selesai S1 mau kemana?, mau kerja apa?. Karena kalo aku pikir-pikir ya, it's just a plan, jadi nanti kalau ekspetasi kita terlalu ketinggian mau ini mau itu, kalo gak kecapaian kita bisa kecewa dan galau karena ekspektasi kita terlalu tinggi, jadi aku kerjain apa yang didepan mata, aku fokusin kesempatan yang datang waktu itu. Step by step. Gak mau terlalu terburu-buru.
Banyak hal baru yang membuka mataku, banyak hal yang kadang aku gak sadar menjadi kelebihan sendiri. Dulu aku yang selalu over atau berlebihan dalam menghadapi sesuatu sekarang banyak mindset aku yang berubah, akupun bingung kenapa bisa berubah, apa karena pergaulan ataupun orang-orang di media sosial yang secara gak langsung ngerubah cara pandang aku melihat dunia ini gimana.
Dulu aku ngerasa aku adalah orang yang selalu merendahkan diri, entah itu aku merasa beda sama orang lain, merasa orang lain lebih kaya, lebih punya karir cemerlang sedangkan aku kayaknya masih jalan ditempat, aku lebih senang ngecompare diri sendiri daripada mencari kelebihanku sendiri. aku merasa itu udah menjadi takdir bahwa aku memang begini, dan ini adalah hal yang harus kamu jalani. Aku yang selalu merasa gak bisa bergaul dan punya banyak teman. Aku yang merasa gak penting bagi siapapun. Waktu itu aku kayak menjudge diri sendiri, dan udah ngeclaim diri sendiri as a victim of the world.
Tapi selama aku kuliah aku mulai membuka diri, mulai melihat kelingkaran yang berbeda, mulai memahami esensi dari pergaulan itu seperti apa, mulai make my weakness as my value. Hal-hal seperti itu bergejolak dan sering aku pertanyakan di dalam diri sendiri. Apa bener aku seburuk itu? Apa bener aku gak pantas untuk menjadi seseorang yang lebih baik? Apa hidupku seburuk itu? Aku jadi mikir ulang, kalo misalnya seburuk itu, segak berharga itu, untuk apa Allah masih kesempatan hidup, bukankah artinya masih ada harapan untuk menjadi seseorang as i want.
Aku sadar dengan ngejudge dan ngeclaim diri sendiri buruk itu gak menyelesaikan masalah, bukan berarti dengan mengclaim diri sendiri buruk esensi menjadi manusia dan tugas serta tanggung jawab kita sebagai manusia dilupakan.
Dulu aku adalah orang yang pintar membuat rencana, selesai SMA aku kuliah jurusan ini, trus aku lulus umur sekian nanti aku lanjut S2 trus punya pekerjaan yang bagus kemudian nikah dan punya anak, like a wonderful life without problem. Sampe akhirnya ekspetasi pertama yang aku rencanakan itu gak sesuai dengan realita yang terjadi, ya aku gak lulus dijurusan yang aku dapetin, dan setelah moment itu aku jadi galau dan gak bisa menikmati hidup dan proses kehidupan, dengan berekspetasi terlalu besar membuat ketakutan kita untuk gagal juga terlalu besar, aku terlambat menyadari hal itu. Sehingga momen-momen galau itu aku rasain.
Setelah itu aku takut berekspetasi lagi, tapi bukan berarti aku ogah-ogahan tapi lebih kayak just focus on things in front of me.