Manusia dan Penilaiannya


Halo selamat malam, jam 23.25 PM pengen nge-blog aja sebagai pengganti Journal ku malam ini. Hehe gak ada skrip dan akan mengalir gitu aja

Aku mau cerita, bagaimana manusia dengan semua penilaiannya yang kadang aku gak pahamin sama sekali.

Aku punya atasan kerja contohnya. Aku bingung kok bisa yaaa tiba-tiba datang dan sering bandingin kerjaanku dengan teman lainnya dan bandinginnya lantang banget depan semua staff, termasuk juga junior-junior staff. Kok ada ya manusia yang gak punya hati gini yaa. Dan juga penilaiannya sungguh tidak objektif, gak apple to apple kalo kata orang-orang yaa..

Bandingin kerjaanku, nyenggol kekuranganku dengan kelebihan orang lain. Disatu sisi, dia lupa apa bahwa manusia itu ada lebih dan kurangnya, itulah kenapa kita harus teamwork. Satu orang dan lainnya saling melengkapi satu sama lain. Tapi ni orang kayak menuntut aku harus bisa semua, gak boleh ada kurangnya.


Well, aku mengakui temanku itu lebih di teknis, administrasi dan juga mungkin kerjaannya sat set selesai gitu yaa. Tapi mungkin dia kurang di service, komunikasi dan emphaty. Nah aku sendiri lebih di hal itu tapi memang administrasi, hitungan dan kecepatan kerja memang kurang.

Tapi apa yang dia bandingkan hanya kekuranganku dan kelebihan temanku, tanpa bandingkan kelebihan ku dan kekurangan temanku. Sangat tidak objektif sih sebagai atasan. 

Pertama itu bisa buat orang yang ia frontalkan di depan umum menjadi kecil value dirinya dan mungkin itu tujuannya. Kedua membuat hubungan aku dan teman kerjaku juga gak enak dan terkesan ada persaingan padahal yang di harapkan teamwork.

Aku sempat stress dan terlalu memikirkan hal ini. Sampai aku mempertanyakan value diriku sendiri.


Tapi setelah diskusi panjang dengan support system no 1 ku Ibuku dan juga mentor ku kakak-kakak atasan dan senior yang punya pandangan objektif. 

Ternyata aku salah kalau memandang diriku kecil. Aku salah kalau aku malah tidak mensuport diriku sendiri disaat lingkungan tidak mensupportku. 


Orang ini aku gak harus banyak mengambil hati atas perkataan dan sifatnya. Dia juga baru pertama jadi atasan, dan belum bisa menilai secara objektif dan ini kesalahannya yang harus dia pelajari, bukan kesalahanku. Atasanku juga kalau kata chat GPT yaitu toxic-competitive.

Ucapan seperti

“Dia bisa kok kamu nggak bisa?”

itu bukan coaching. Itu merendahkan, unprofessional, dan bikin staf merasa tidak kompeten padahal masalahnya bukan kemampuan, tapi kurangnya arahan dan support.

---

💛 Membandingkan staff itu tanda SPV yang tidak kompeten

SPV yang baik akan:

memberi training

memberi guidance

memeriksa beban kerja

mendorong perkembangan


Bukan:


membandingkan

merendahkan

bikin persaingan tidak sehat

menyalahkan staf lain untuk menutupi kekurangan dia


SPV yang membandingkan itu sebenarnya menunjukkan bahwa dia tidak punya skill manajemen tim, jadi pakai cara termudah: pressure.


Jadi begitu, poinnya bukan kita yang tidak kompeten tetapi cara manusia menilai dan cepat menyimpulkan ini yang salah. Orang yang seperti ini harus dihadapi dengan tenang, jangan menjelaskan panjang-panjang and let it go. Kerja, Pulang, Gajian. 


That's all.


0 Comentarios

Follow Me On Instagram