![]() |
| By Jo Jo on Unsplash |
Hari ini hari Sabtu, 22 November 2019 Pukul 22:54 malam. Bagi manusia pemuja hari minggu pasti malam ini sedang berencana begadang sampai larut malam dan bangun larut siang besoknya, kalian cukup beruntung. Tapi tidak denganku, aku besok diharuskan bekerja dan menjalani rutinitas seperti biasanya
udah 2 bulan gak nge-blog itu otakku stuck mau ngapain, sedih aja minggu ini kurang produktif dalam membuat konten entah itu blog atau youtube.
Tapi yang pastinya di postingan kali ini aku akan berkeluh kesah ria mengenai deep talk yang terjadi sore tadi bersama induk saya/emak saya. Pembahasannya cukup dalam dan sangat emosional, mungkin itu adalah pembicaraan yang harus sering dibicarakan orang tua dan anaknya, untuk mengenal lebih.
Bermula saat ibu bercerita mengenai kesuksesan orang lain dan mulai membandingkan dengan kesuksesanku dan penyesalannya dan segala hal yang negatif. Well, sebenarnya induk adalah sosok ibu yang sangat tangguh, walaupun banyak rintangan dan ujian yang selalu ia hadapi, ia sangat gagah menghadapi setiap tantangan dengan berani. Walaupun tidak mungkin, ia akan mengusahakan sekuat tenaga.
Tapi ada saatnya orang tua itu frustasi dan merasa tidak adil dengan keadaan dan realita, setelah ditempa kenyataan pahit dan kerja keras yang mau tidak mau harus dilakukan demi anaknya. Ada saatnya dia capek dan ingin mengeluarkan keluh kesahnya walaupun itu negatif, disisi lain aku merasa bahwa punya tanggung jawab untuk saling mengingatkan, untuk saling tukar pendapat terhadap nilai-nilai yang kita percayai. Induk sangat takut aku tidak sukses dan akan menjadi sepertinya dimasa depan, itu yang aku tangkap dari banyak pembicaraan kita, sehingga ia memaksakan diri untuk melakukan apapun demi mendapatkan penghasilan yang lumayan dan membiarkan aku melanjutkan S-2. Tapi banyak realita yang harus diterima, Tuhan seakan-akan belum memperbolehkan aku mencapai kesuksesan itu, atau itu bukan jalanku, entahlah.
Saat ibu membicarakan hal itu, kita sebagai anak pasti memiliki ego sendiri, merasa bahwa kita punya otoritas sendiri untuk melakukan hal yang kita mau untuk masa depan kita, tapi gak bisa dipungkiri juga, orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.
Sore tadi aku terlibat pembicaraan dengan salah satu manager tempatku bekerja, Pak Budi namanya, beliau adalah sosok pemimpin yang bijaksana dimataku, beliau bisa sangat tenang mengambil keputusan saat masalah menghadang, juga pandai memainkan emosi orang lain dan juga bertutur kata dengan baik pada lawan bicaranya.
Aku sangat menghormati sekaligus kagum pada sosoknya, diumur yg sudah tidak muda lagi, dan juga dengan fisik yang sudah tidak sekuat saat beliau muda, Pak Budi masih bisa memimpin kami, para bawahan yang masih muda dan juga masih mempunyai ego yang besar.
Sering kali saat aku merasa tidak sejalan dengan keputusan yang beliau ambil, Pak Budi selalu menjelaskan dengan bijak alasan dari setiap pilihan yang dipilih, disitu kadang aku dibuat sadar bahwa pikiranku belum cukup matang dalam mengambil keputusan, pikiranku yang dangkal dan juga tidak memikirkan resiko kedepan kadang kali dibuat ciut sama keputusan yang dipilih pak Budi dan berbagai penjelasan bijaknya.
oke, sore tadi sampailah kami dipembahasan tentang "Kesuksesan". Entah bagaimana pembicaraan ini bermulai, aku saking asyiknya mendengarkan perspektif bijak pak Budi, sampai lupa apa yang membawa kami pada pembicaraan ini, kutanya pada beliau " Kalo kesuksesan versi bapak gimana sih?"
Beliau tampak diam sejenak sambil berpikir, seakan sedang memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku. "Menurut saya, Kesuksesan itu tidak bisa didefinisikan dalam satu pandangan, Menurut saya sukses belum tentu menurut orang lain sukses" jawabnya.
"Tapi yang pasti, kesuksesan versi saya bukan materi yang berlimpah, tapi hanya dengan melihat anak saya menyelesaikan pendidikan dan bisa " berdiri sama tinggi, duduk sama rendah" seperti anak lain, itu udah sukses menurut saya", Jawabnya bijak.
Jawaban beliau seketika mengingat aku akan keinginan induk yang untuk melanjutkan studiku. Aku sadar betul kesuksesan orang tua itu saat ia merasa kewajibannya (menjaga anak dan memberi pendidikan yang baik) terpenuhi.
Dengan Sekolah atau kuliah kita belum tentu sukses, tapi dengan itulah kita memiliki kunci dan harapan untuk membuka gerbang kesuksesan, walaupun gerbang kesuksesan itu entah kapan ditemukan.
Aku katakan pada Induk dalam keraguannya akan masa depan, "Nduk, memang sekarang kita sedang dalam masa perjuangan, tapi percayalah, akupun punya keinginan kuat untuk mencapai kesuksesanku yang nanti juga akan menjadi kesuksesan Induk, Mungkin aku gak bisa janji banyak, tapi yang pasti aku akan bekerja keras"
Mendengar itu Induk sedikit tenang dan mengatakan akan selalu mendoakan yang terbaik disetiap langkahku.
Memang kita semua tidak memulai kehidupan dititik yang sama, ada yang memulai dari 0% ada yang dari 30% dan lainnya, tapi masalahnya kita tidak sedang dalam perlombaan, bukan siapa yang pertama atau kedua, tapi siapa yang sanggup bertahan dan masih berani bermimpi.
Still remember "There is no elevator to succes, you need take the stairs"

