 |
| Pic by Kat J on Unsplash |
24 April 2019
Malam ini sambil mendengarkan music relax dari monoman yang terus mendayu, pikiranku melayang
jauh ke masa lalu, mengenang 22 tahun kenangan yang telah dilalui, mencari
beberapa kisah inspirasi yang akan membuat aku lebih mensyukuri hidup dan hal-hal
yang telah terjadi.
Well, mungkin tulisannya akan terlihat seperti diary yang
isinya curahan hati dan kekalutan otak yang menagih untuk ditumpahkan.
Oke, bagi kalian yang memutuskan untuk lanjut membaca cerita
ini, bacalah saat kalian punya waktu. Because
this story will be a long story and emotional story (I guess).
Cerita ini berawal ketika tahun 2004 (kalau aku tidak tidak
salah mengingat). Aku bersekolah di
sebuah Sekolah Dasar di kota Batam. Aku memang baru pindah ke Batam, karena
kebetulan orang tua bekerja disana. As a
new student aku merasa sangat takut untuk bertemu teman-teman baru,
guru-guru baru, lingkungan baru yang mungkin akan tidak cocok denganku. Aku menjalani
hari-hari seperti selayaknya anak sekolah dasar lainnya, bermain, jajan,
mengaji, dan hal seru lainnya setiap harinya.
Sampailah aku berada dititik tersedih dihidupku sebagai seorang siswa sekolah
dasar. Mungkin semua sekolah juga begini, tidak lain dan tidak bukan I got bullied by my friends. Yes, I don’t know
how it started, dan aku gak tau kenapa mereka membuli orang yang lemah like I was. Memang, aku bukanlah seorang
siswa yang pintar atau cantik bahkan kaya, kau bisa bilang aku adalah siswa
yang biasa aja, dan kadang sering mendapat nilai jelek pas ujian, bukan karena
bodoh tapi karena aku gak tau bagaimana caranya belajar (yang belakangan aku
sadar beberapa tahun kemudian).
Oke mari aku ceritakan detail how they treat me like i was not a human .
Sama seperti sekolah pada umumnya, dikelas pasti ada yang siswa-siswa yang
merasa kuat dan ditakuti, biasanya mereka berkumpul dalam geng beberapa siswa
laki-laki dan perempuan. Mungkin karena merasa aku adalah sasaran empuk untuk
di bully, then they did it. Beberapa
siswa laki-laki tak jarang menendang bokongku, sampai-sampai rok merahku selalu
kotor dengan debu-debu sepatu, mereka tak jarang menyembunyikan alat tulis, tas
bahkan dasi atau topi yang harus dipakai setiap harinya. Bahkan salah satu dari
mereka pernah membuang tasku kedalam got dan akhirnya tas dan buku-bukuku basah
dan harus kujemur dibelakang sekolah. Tak jarang aku menangis, masjid belakang
sekolah adalah tempat biasanya aku menangis.
Tidak semua teman dikelas sejahat itu, tapi mereka juga gak
berani membela, karena takut dibuli juga. Jadi, aku harus menghadapi sendiri orang
jahat yang butuh hiburan ini.
Aku berpikir keras bagaimana melawan mereka agar mereka
berhenti memperlakukan aku seperti itu. Suatu hari, aku beranikan diri untuk
melaporkan hal ini ke wali kelas, tapi sayangnya wali kelas tak terlalu menindaki
hal ini, yang ada mereka tambah geram dan aku semakin dibully.
Sempat terpikir untuk berhenti sekolah, namun melihat
perjuangan ibu membuat aku bertahan sekuat tenaga. Aku merasa menjadi orang
terbodoh didunia, aku tak bisa
mengerjakan soal matematika dipapan tulis, sampai guruku mengatakan aku “tolol”
diikuti gelak tawa teman-teman sekelasku.
Aku pernah menanyakan pada mereka “mengapa
mereka membuliku?” kau tau jawaban mereka “kami membulimu karena kau jelek”, what? Karena seseorang jelek, jadi
pantas untuk dibully? Pantas untuk diperlakukan tidak adil? Mungkin mereka
tidak kenal yang namanya Hak Asasi Manusia (yang belakangan sangat kuhapal
pengertiannya sampai sekarang) tapi mereka memang antagonis.
Aku tak bisa menjawab satupun soal sejarah sampai aku
mendapat ranking 2 dari bawah dikelas. Aku paling banyak mendapatkan nilai
merah diraport. Prinsipku waktu itu “asal naik kelas”. Aku mencap diri sebagai
siswa bodoh. Siswa jelek yang sering diejek. Siswa miskin, yang setiap harinya harus
berjalan jauh kesekolah nunggu angkot, dan tak jarang terlambat karena
angkotnya gak lewat-lewat. Aku adalah siswa paling dibenci dikelas dengan minim
prestasi.
Sampai akhirnya UN dan aku mendapatkan nilai terendah di
matematika dan bahasa inggris, guruku sampai bilang kalau aku hanya lulus
percobaan. Can you imagine that? Untuk
seorang siswa SD aku merasa sangat takut jika harus mengulang UN tahun depan. Pokoknya
itu adalah the worse part of my life,
masa kecilku dipenuhi dengan tantangan-tantangan besar yang harus kulalui,
krisis mental, dan juga cacian dan makian dari lingkungan sampai aku tumbuh
menjadi anak yang pemurung dan menutup diri. Masa sekolah dasarku berakhir
dengan kisah buruk yang masih teringat sampai sekarang.
Akhirnya, setelah tamat sekolah dasar aku memutuskan ikut
bibiku pulang ke kampung halaman, a new
journey began here, aku bertekat melupakan masa-masa burukku di sekolah
dasar, dan membuka lembaran baru, membuat kenangan baru disekolah baru
dikampungku. Karena kupikir anak-anak desa pasti akan lebih baik daripada anak
kota.
Dengan berat hati ibuku merelakan aku pulang bersama bibik,
ibu berpesan agar aku melanjutkan sekolah dikampung dan jangan sampai putus
sekolah, kujawab ibu dengan senyuman “pasti, bu”.
Akhirnya aku pulang kekampung dengan perasaan bahagia, “aku
tak akan menginjakkan kakiku lagi dikota yang telah banyak mengukir kenangan
buruk dihidupku” kataku waktu itu, “Bye Batam, bye kalian, bye kenangan burukku”.
Singkat cerita, aku tinggal bersama nenek dikampung, memulai
sekolah baru dan mendapat teman-teman baru.
Hari pertama disekolah, aku disambut hangat oleh siswa-siswa
perempuan yang sangat senang karena kedatangan siswa baru, aku duduk paling
pojok kiri depan, dan disebelahku duduk seorang siswi cantik berambut panjang,
sebut saja namanya lidia. Dia suka pelajaran bahasa inggris dan yang pasti
banyak digandrungi cowok-cowok karena parasnya yang cantik.
Namun, kenangan buruk kembali terulang lagi dihari pertama
sekolah SMP-ku. Aku diejek kakak kelas, lantaran aku mempunyai kulit yang lebih
gelap (maklum saja aku berasal dari daerah bercuaca panas) dan kampungku
terletak didaerah pegunungan yang dingin, tidak heran orang-orangnya memiliki
warna kulit yang lebih putih.
Karena warna kulitku gelap, aku mendapat julukan baru yaitu “Irma
Hitam” (hitam ditunjukkan pada warna kulitku yang gelap). Aku kembali merasa insecure disitu, aku kembali teringat
para pembully yang sangat ingin kulupakan itu.
Aku sedih dan menceritakan semua pengalaman burukku pada
kakak sepupuku, yang kebetulan dulu adalah teman main masa kecilku, sebut saja
dia Doni. Bang Doni memiliki akademik yang bagus, tak jarang dia mendapatkan
peringkat 3 besar dikelasnya. Walaupun dia laki-laki, namun dia gak nakal
seperti anak SMP lainnya yang sudah mulai merokok atau melakukan hal-hal buruk
lainnya.
Dari bang Doni lah aku banyak belajar, dia mengajariku
bagaimana caranya belajar, yang akhirnya aku terapkan, dia mengajariku berbagai
hal yang sebelumnya aku belum tau sama sekali.
Akhirnya pengumuman juara kelas semester I kelas VII B tiba,
aku dipanggil sebagai juara ke-2. Aku
sangat terkejut dan bahagia, tak pernah terpikir sebelumnya aku bisa
mendapatkan juara kelas, karena aku adalah siswa bodoh yang selalu mendapatkan
nilai paling jelek dikelas.
Aku mendapat piagam dan hadiah berupa beberapa buku yang
telah dibungkus dengan kertas kado, tertulis “Juara 2 Kelas VII B”. aku sangat
bahagia dan bangga pada diriku sendiri, nenekku sangat bangga dan juga tak lupa
kukabari berita baik ini pada ibuku, beliau sangat bangga dan memintaku untuk
mempertahankan peringkatku.
Setelah kejadian itu, aku tumbuh lebih berani, menantang
diriku lebih jauh. Aku pernah membacakan puisi Menyesal milik Chairil Anwar
dengan mimik dan intonasi, yang mana siswa lain tidak berani melakukannya. Awalnya
teman sekelasku menertawakannya sampai akhirnya guru bahasa Indonesia kami
mengacungkan 2 jempol padaku diikuti tepuk tangan meriah oleh teman-teman
sekelasku. Setelah itu aku diutus sekolah untuk mengikuti lomba pembacaan puisi
se-kabupaten.
Aku juga tergabung dalam pasukan PASKIBRAKA yang mana hanya siswa-siswa terpilih yang bisa
mengikutinya. Namaku kian populer disekolah setelah aku membawakan kultum 7
menit didepan semua siswa SMP yang berjudul “Iman” lengkap dengan pantun dan
ayat alqur’an yang kususun dengan bermodalkan buku tauhid yang kupinjam dari
guru ngajiku. Setelah itu aku selalu di mention
kepala sekolah dan dijadikan contoh siswa teladan.
Tak hanya itu, aku semakin populer disekolah sampai-sampai
kemanapun aku pergi tak jarang adik kelas dan kakak kelas yang kukenal bahkan
kadang tidak terlalu kukenal menyapaku. Sampai puncaknya aku dipilih sebagai
pembawa acara perpisahan sekolah yang aku sendiri tidak tahu kenapa buk guru
memilih aku. Yang pasti masa-masa SMP-ku sangat indah dan penuh dengan
kejutan-kejutan dari diriku sendiri yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku
seolah membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa.
Masa-masa sekolah dasarku sangat berbanding terbalik dari
masa kelamku selama di Batam, disini aku merasa dihargai dan bermanfaat untuk
keluarga dan teman-teman. Aku bisa menjadi diri-sendiri. Aku lebih percaya
diri. Krisis mentalku perlahan-lahan sembuh, aku menjadi Irma yang baru. Yang penuh
dengan manfaat.
Sekarang, aku menjadi sosok yang lebih bersyukur. Bersyukur Allah
telah menempatkanku pada keadaan yang berbeda. Sehingga aku bisa merasakan
bagaimana rasanya berada dibawah dan diatas. Pelajaran berharga yang kudapat
yaitu, setinggi apapun posisimu dari orang lain please jangan jadikan itu alasanmu untuk memperlakukan orang lain
sesukamu, treat others like u want to be
treated. Kita kadang gak tau kapan kita berada dibawah dan kapan dia berada
diatas. Mungkin kalian memang lebih baik dari dia tapi bukan berarti kalian
dengan mudah menginjak dia.
Hal ini selalu kutekankan pada siswaku, saat aku sempat
menjadi seorang guru dulu. Aku menghimbau mereka untuk jangan membully teman
yang lemah, kubagikan juga kisahku agar mereka lebih paham kalau dunia bekerja
seperti itu.
Berada diatas memang kadang membuat kita terlena, sadar gak
sadar kadang kita menindas orang dibawah kita. Tanpa tahu tuhan memberikan
semua manusia kesempatan yang sama.
Mulai sekarang bagi kalian yang masih membaca tulisan ini
semoga dengan ada tulisan ini, bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk
berbuat baik pada siapapun tanpa membedakan mereka dari ras, suku, agama,
status sosial, fisik dan yang lainnya. Treat
human like a human. Itu aja sih intinya.
Setelah tulis panjang-panjang sambil menerawang kisah-kisah
yang pernah terjadi, ternyata tulisan ini telah memasuki halaman ke-4 wich is ini cerita terpanjang pernah
kutulis di blog ini so far. Semoga pesan-pesannya
dapat tersampai dengan baik padamu dan jadi remainders
buat ku.
Terimakasih udah baca!
-Irma