Being an Introvert

                           Source: IDN TIMES

Introvert dan Extrovet adalah pembahasan mainstream yang sering dibahas banyak kalangan khususnya generasi millennial. Pernah gak sih merasa bingung “sebenarnya aku ini introvert atau extrovet ya? Atau malah ambivert”.

Aku dulu juga gitu, selama ini aku yakin kalau aku adalah seorang extrovet dengan patokan kalau aku suka tampil didepan umum, suka mengemukakan pendapat dikelas, suka buat video ngoceh di youtube. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, aku merasa nyaman saat sendiri. Kalau disuruh milih hari minggu mau kondangan atau dirumah aja, aku lebih milih dikamar aja seharian sambil nonton drakor, atau buat video atau juga nulis kayak gini. 

Aku kadang malas ketemu orang kalau gak ada manfaatnya, malas ngomong banyak kalau topiknya gak berisi. Kalian juga gak sih? Atau aku aja yang kayak gitu.

I was wrong, dulu aku kira introvert itu orang yang pendiam, malu dan tidak suka kumpul sama orang banyak, padahal aku juga suka tampil didepan orang banyak (bukan pemalu), tapi kadang sering lelah aja sama orang-orang dan pengen sendiri aja dirumah.
Pengen menjauh dulu deh dari keramaian, butuh waktu mikir sendirian dikamar. Kalau sendiri itu muncul aja ide-ide cemerlang yang tak pernah terlintas sebelumnya.

Menjadi introvert itu menurutku susah-susah gampang, gimana enggak, kita bisa beradaptasi pada banyak keadaan, kalau lagi sama orang banyak  bisa (sejauh masih ada waktu untuk sendiri) kalau lagi sendiripun gak mudah bosan sendirian, coba aja yang extrovet disuruh diam dirumah 3 hari pasti udah depresi gak bergaul sama orang lain.

Gak enaknya jadi introvert itu, gak easygoing, gak mudah beradaptasi dan nyaman pada orang baru jadinya agak susah terbuka pada orang lain. Karena agak kaku dalam pergaulan, jadi sering ngerasa kurang bisa membawa suasana, sering bingung harus bertingkah seperti apa dalam suatu keadaan atau bisa dibilang terlalu flat atau mungkin dibilang cuek sama orang baru.

Aku tidak mengeneralkan semua introvert kayak gitu ya, ini sesuai apa yang aku rasakan aja. Sering mikir “kok orang lain bisa mudah banget jadi diri sendiri didepan orang lain, sedangkan aku merasa insecure didepan orang lain”. Mungkin karena krisis kepercayaan yang pernah aku alamin, tapi aku yakin dengan meningkatkan self love itu bisa berubah secara bertahap.

Mungkin aku hanya perlu berdamai dengan kekurangan, mencoba mengerti jika semua yang kita inginkan kadang tak selalu sesuai dengan hidup itu sendiri. Tugasku sekarang yaitu menghargai kelebihan dan memaksimalkannya.

Menjadi introvert itu juga menjadi seorang pemikir, setiap hari aku mikirin gimana caranya improve diri dan skills, gimana caranya setiap hari produktif. Walau dikeadaan apapun tetap open minded. Pengen belajar banyak hal dari siapapun bahkan dari kebodohan sendiri.

Siapapun kamu diluar sana introvert ataupun extrovert, dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, just keep being yourself!

0 Comentarios

Follow Me On Instagram