Kesal.


Lagu celengan rindu milik Fiersa Besari terus mendayu indah melalui laptop merahku yang merajuk karena tak pernah ku service lagi selama setahun. Jadi dia mengeluarkan jurus lemotnya seakan minta aku banting ke lantai tapi ia tau aku tak akan melakukannya.

Well, kembali ke pembahasan malam ini.

Hal yang kukesali akhir-akhir ini sungguh nauzubillah banyaknya, bukan lagi pms atau hormon yang lagi tidak sepaham. Tapi karena aku merasa kurangnya diriku disegi buuuuannyak hal. Ngerti gak sih merasa gak dihargai gitu, tapi sama diri sendiri. Aneh tapi terjadi.

Titik terendah dalam hidup pasti semua pernah alami, tapi padaku seakan tak berkesudahan. Mereka bisa ini, itu punya ini dan itu, semakin membuat otak merasa tak ada fungsinya diciptakan dikepala.

“mungkin hanya rasa syukur yang kurang” ujar seorang teman. Tapi gimana mengatur rasa syukur kalau hari-hari tak ada perubahan.

Kutanyakan pada diriku sendiri apa benar mau kulanjutkan mengikuti kata hati yang sering menghianati, atau berhenti dan meninggalkan semua disini?

Lagi-lagi tak kudapati jawabannya, yang ada hanya mengundang ragu dan tanda Tanya.

Hidup itu pertualangan, hidup itu juga penuh kesakitan yang kau temukan dalam pertualangan itu sendiri. Mereka paket lengkap yang tak bisa kau pisahkan walaupun dengan bayaran lebih besar. Semuanya harus kau lewati.  senang, sedih, bahagia, kecewa, marah, kesal, campur aduk tapi selalu punya tanda koma ditengahnya. Sebelum sedih, ada senang sebelumnya. Sebelum kecewa, ada bahagia sebelumnya. Begitu seterusnya.

Ah, aku tidak pandai mengajarimu tentang hidup. Karena hidupku juga sangat butuh tuntunan saat aku menemukan pertigaan didepan. Tapi, jika kau masih mau membacanya akan kulanjutkan saja cerita hidup dari fakir ilmu kehidupan ini.

Pertanyaan eksistensi diri ini tak ada habis-habisnya muncul dikepala. Saat aku merasa sebagai manusia biasa yang cuman belum menemukan siapa diriku sebenarnya. Tapi hidup kembali mempermasalahkannya, seakan mendorongku cepat-cepat menemukannya yang masih setia bersembunyi dari penglihatan hatiku.

Kulanjutkan hidup seperti biasa, walau dengan pertanyaan yang semakin menggunung dan tak bisa kujawab sampai sekarang. Kucoba hiraukan saja, berharap akan hilang setelah ia lelah berkelana dikepala. Kuharap bisa kukendalikan, dan takkan mengundang kembali ragu yang kubenci.

Hidupku masih indah, walau masih banyak pertanyaan menggantung dilangit-langit jiwa. Tapi, aku tak mau tergesa-gesa dan ingin menikmati prosesnya, melakukan hal yang masih nyaman untuk dimasukkan dalam aktivitas dan hobi.

kukatakan padamu:
Inilah aku, si penikmat proses-

0 Comentarios

Follow Me On Instagram