Am I a teacher?


Assalamualaikum.

Hari ini tanggal 25 November 2018 bertepatan dengan Hari Guru Nasional.  Aku kepikiran melanjutkan tulisanku. This’s about my experience as a teacher. So happy reading!

Guru adalah suatu profesi yang sangat mulia, Dimana misinya sangat berat untuk mencerdaskan anak bangsa. Guru itu pekerjaan tersulit sedunia. Bagaimana tidak, menyelesaikan misi yang belum tentu bagaimana hasilnya

Guru, profesi yang tak pernah kupikir akan kusandang.
Akuntan, Menteri, Pengacara, Diplomat dan Jaksa adalah cita-cita mentereng yang pernah kusemat untuk masa depanku

Maklum saja, karena aku telah susah payah menyelesaikan studi hukumku…

Menjadi guru?... ah, masa lulusan hukum berprofesi sebagai guru?” celotehku ketika sebuah instansi pendidikan swasta menghubungiku untuk mulai bekerja

Akhirnya aku ditugaskan mengajar 2 sekolah swasta dikota ini untuk mengajar Bahasa Inggris, kalau kamu Tanya kenapa mengajar bahasa inggris? Akan kuceritakan dilain waktu.

Memulai pekerjaan sebagai guru adalah karir yang harus ku kutiti dari 0, setelah berbulan-bulan aku merasa terisolasi dikota ini dan tak bisa kembali ke kota yang selalu kukenang dimana kota tempat aku mengenyam pendidikan. Karena kekurangan  biaya, memaksaku harus bertahan hidup disini walau hanya untuk menyambung nyawa. Jika aku ingin kembali, harus menunggu beberapa bulan untuk mengumpulkan uang secukupnya supaya aku tidak terlantar disana.

Karena kekurangan pengalaman mengajar, memaksaku menerima gaji yang tidak sama dengan guru yang telah berpengalaman, kau  bisa bilang setengah dari gaji mereka atau mungkin satu per-empatnya. Hal ini tambah membuatku tidak merasa nyaman dan cepat-cepat ingin mendapatkan pekerjaan yang memiliki gaji yang layak.

Namun, keadaan membuatku bersimpuh lemah didepannya, sehingga apapun yang terjadi harus kutelan pahit-pahit. Karena kalau tidak, kau pasti tahu konsekuensinya.

Tak terasa 1 minggu kujalani profesi yang mulia ini dengan setengah hati, namun terkadang aku merasa bahwa menjadi guru sangat menyenangkan tapi hatiku masih menampiknya ditambah mengingat gaji yang akan kudapat bulan ini, huuufftt….. susahnya mencari uang!

Di 2 sekolah tersebut, aku ditugaskan mengajar 4 kelas dengan bermodalkan nekad dan pasang gaya pe-de. Bagaimana tidak seorang guru akan menjadi role-mode bagi siswa-siswinya, bagaimana aku harus bertindak? Agar mereka bisa mencontohkan hal-hal positif yang aku coba tonjolkan.

Kelas pertama kuajar sangat mengesankan sekaligus mengesalkan, bagaimana tidak dengan gaya mengajar yang kaku  ditambah murid-murid kelas 1 yang masih nakal tak sanggup ku-manage dengan baik. Aku merasa menjadi induk kera yang memiliki banyak anak, and no one listen to me! (no judging but that what I felt).

Tak pernah secara langsung berbicara didepan banyak orang membuatku cukup nervous berbicara dan menyampaikan pelajaran walaupun didepan anak SD. Karena nyatanya jika mereka membaca keraguan yang aku tampakkan, bisa saja kelas yang awalnya tenang mendadak riuh karena merasa kelasnya membosankan.

Secara tidak langsung bebanku bertambah berat, selain menyampaikan pelajaran untuk masa depan mereka, aku juga memiliki tugas moril untuk membuat mereka tidak bosan didalam kelasku. Huft, cukup melelahkan fisik dan mental.

Setiap kelas yang kurasa gagal dalam menyampaikan pelajaran mengacaukan pikiranku dan memutar otakku mencari ide bagaimana caranya agar siswa yang kuajar dapat enjoy sekaligus paham apa yang kuajarkan.

Beberapa trik berhasil kucuri dari seniorku yang memiliki pengalaman mengajar dibeberapa instansi internasional, berbagai macam ice-breaking seru siap meramaikan kelasku. Satu hal yang aku pelajari dari sini, bahwa belajar itu tidak melulu kaku duduk di kursi dan membaca buku, karena faktanya anak-anak butuh hal-hal yang dapat merangsang otak mereka agar cepat tanggap, hal ini terjawabkan dengan menjadi guru yang kreatif, selalu memiliki ide cemerlang untuk menyampaikan pelajaran yang kaku menjadi lebih bernyawa.

As I expected, dengan mengalihkan pelajaran pada fun games make it more easy to manage them. Mereka lebih excited untuk menghadiri kelasku dan penasaran akan games yang akan diadakan disetiap pelajaran. Well, now I know perasaannya guru yang berhasil membuat studentnya  senang dan tetap paham dalam belajar. Ya tak bisa dipungkiri juga ada beberapa games yang tidak berjalan as I expected.

But, I don’t know how long I can survive, as long as I enjoy this job I’ll do my best. And the important thing is I feel more happy when see my students so excited to study that’s always charging my soul, mantap soul!

Anyway, HAPPY TEACHER’S DAY for all teachers around the world, I know that’s not easy be a teacher but I hope you enjoy whatever you do. Let’s accomplished our mission to creat smart generation for Indonesian's future.



0 Comentarios

Follow Me On Instagram