SI KAYA X SI MISKIN


Pic by Zeyn Afuang on Unsplash

Dimasa pandemi yang entah kapan selesai ini, kita dihadapkan pada situasi genting tanpa peringatan terlebih dahulu. Kau bisa bilang seakan kiamat kecil yang tidak diundang kehadirannya. Tapi ia tak mau tahu, yang pasti siap tidak siap, mau tak mau harus bisa dijalani harus bisa bertahan apapun keadaannya. Karna begitulah kehidupan sulit ditebak mau nya apa, kadang terlupa menamburkan sedikit bumbu kemanusiaan didalamnya, toh tak ada siapapun yang bisa menenbak apapun yang terjadi dimasa depan.

Aku kembali duduk dipojok paling nyaman, namun sekarang terasa agak membosankan karna pemandangan ini saja yang bisa kunikmati di kontrakan kecil ini, dibatasi dengan dinding-dinding tak berhias lukisan apapun.

Satu-satunya teman setia hanya ponsel pintar yang nampaknya sebentar lagi akan habis kuotanya, entah lah apa aku sanggup membeli kuota lagi untuk bulan depan sekedar untuk hiburan suntuk dirumah atau mengirimkan CV ke berbagai perusahaan yang masih bisa meng-hire karyawan di sulit seperti ini. Tak tau apa perusahaan bisa atau tidak, yang pasti hidup sekarang gak lagi baik-baik saja.

Masa kontrakku habis bulan Juni 2020 dan perusahaan telah me-warning tak akan melanjutkan kontrakku karna masih dalam masa sulit ini, aku hanya mengangguk sedikit saat HR kantorku mengatakan itu, apalagi artinya? aku akan kembali menjadi pengangguran yang menyedihkan, aku akan kembali sedih melihat ibu banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang aku merasa gagal menjadi anak yang sudah disekolahkan sampai S-1.

Tapi walaupun benci mengakuinya, memang mencari pekerjaan dengan background S-1 Ilmu Hukum cukup sulit bagiku mendapat pekerjaan, entah itu karna sedikitnya kebutuhan perusahaan atau memang lowongan pekerjaan  sedang tidak ada, yang pasti waktu tamat aku hanya sruduk aja mencoba pekerjaan yang jauh melenceng dari jurusanku, "persetan, aku butuh makan!" pikirku saat itu.

Induk pernah bilang jurusan sepertimu itu harus lanjut S-2 baru bisa menjadi "orang", aku sadar memang begitu, tapi S-1 juga gak papa sih kalau kamu pikir udah cukup tapi ya harus ekstra keras usahanya untuk mencari pekerjaan yang cukup mumpuni, kecuali kamu banyak link sehingga bisa direkomendasikan orang dalam, itu akan sangat membantu (tapi bagi yang beruntung juga).

Hmm..
S-2 adalah mimpi besarku, dengan finansial yang terbatas dan kadang kurang apa aku bisa melanjutkan pendidikanku? apa aku bisa mencari uang yang cukup untuk lanjut S-2? atau beasiswa? entahlah yang pasti aku masih memimpikannya suatu saat nanti, pasti Tuhan akan mengabulkan doaku yang satu itu. Karna Tuhan kadang kasih rejeki dari hal yang tidak diduga-duga kan?

Namun, karna aku yang tak selalu bersyukur ini dan sering melihat orang yang lebih beruntung pernah berpikiran, "kalau aku ditakdirkan menjadi anak yang kaya secara finansial, apa yang terjadi ya?" karna teman-temanku yang dari kalangan mampu sungguh enak hidupnya, bisa lanjut S-2 kemana aja tanpa pusing mikirin uangnya dari mana, bisa kerja di perusahaan bonafit yang direkomendasikan orang tuanya, atau bisa menjadi anggota DPRD dengan modal yang pasti gak sedikit, aku berdecak kagum pada orang tua mereka. Jalan-jalan kemana aja asal mau, kadang ada nih yang bisa naik haji bareng keluarganya saking tajir melintir, wah wah dunia sungguh indah bagi mereka.

Tapi, kalau aku ditakdirkan begitu, apa aku bisa bertemu ibu yang sangat kuat yang aku miliki sekarang? ibu yang gak tau gimana kerasnya bekerja dari rumah ke rumah untuk bersih-bersih dan digaji gak seberapa, kerja serabutan asal aku bisa sekolah, jual koran di bawah teriknya matahari yang membakar kulitnya, tak jarang sampai tengah malam yang dingin. Mencari kaleng-kaleng bekas di acara musik para anak muda yang butuh hiburan, itulah alasannya mengapa aku gak mau terlalu boros memakai uang jerih payahnya, kadang saat pulang kuliah temanku mengajak jalan-jalan ke Mall dan kadang mereka membeli baju,tas dan perlengkapan wanita lainnya dengan mudah dengan uang orang tuanya, ya maklum karna orang tua mereka memiliki pekerjaan yang mapan atau mungkin mereka tak melihat sendiri bagaimana orang tua mereka bekerja.

Saat libur semester 3 aku pernah berlibur ke tempat ibuku bekerja, aku berencana menolong ibu beres-beres dirumah majikannya, sedih sekaligus kesal melihat ibu bekerja keras membersihkan rumah itu, tak jarang majikannya menyuruh ia bekerja dua kali menyetrika baju yang menurutnya kurang rapi, padahal ibu sudah cukup lelah dan sudah waktunya pulang, "tapi apa daya majikan adalah majikan kita masih butuh uangnya", kata ibu waktu itu, aku hanya bisa nangis dalam hati. Jadi saat aku ingin membeli sesuatu yang tidak terlalu penting dengan ibu, aku kembali teringat sedihnya melihat induk malam itu, susahnya induk mencari uang ini, kembali kumasukkan uang tersebut kedalam dompet 'aku akan membelikan barang yang lebih penting' pikirku.

Kemaren aku udah bekerja pada perusahaan pertamaku, walapun dibilang jauh dari jurusan kuliahku, tapi aku cukup tertarik dengan pekerjaan ini apalagi ada bonafit lain yang aku dapatkan. Aku bekerja disuatu perusahaan multinational di kota ini. Yang menariknya para costumer kami sangat heterogen, mereka berasal dari berbagai belahan dunia. Baru kali ini aku punya alasan profesional untuk berinteraksi dengan orang asing, karna dari dulu aku suka belajar Bahasa Inggris, aku bermimpi untuk bisa fasih dalam bahasa tersebut dan bisa mengenyam pendidikan di negara berbahasa inggris (Amin) aku sering memiliki keinginan punya teman orang luar negeri, sampai suatu hari aku bertemu orang Australian bernama Linda dan Robert, aku pernah menulis pertemuan kami di blog ini, disana Linda cerita banyak padaku tentang keluarganya, aku dengan pemahaman yang masih dibilang minim sangat senang mendengar ceritanya.

Setelah bertemu dengan Linda dan Robert aku sadar selama ini aku hanya belajar teori tapi pas prakteknya nol besar. "Nah, ditempat kerja inilah aku belajar langsung dari nativenya" pikirku. Banyak hal aneh dan lucu yang sering terjadi di awal-awal aku bekerja, masa adaptasiku sungguh agak ribet, sehingga sering dibantu Manager atau seniorku untuk menjawab pertanyaan dari beberapa costumer, maklum aku dihadapkan dengan banyak accent, kadang accent Singapore, Australia, America, UK dan lainnya apalagi accent India yang kadang bikin aku nyerah dia ngomong apa. Haha yasudahlah, karna itu kenikmatan bekerja di perusahaan ini pikirku.

Ternyata bekerja disini membuat aku banyak berkembang dari banyak hal, dan juga banyak hal yang ternyata lebih dari uang yang aku dapatkan, selain penghasilan aku menemukan MIMPI disini, menjadikan wake-up call mimpiku yang tidur dulu, mimpi yang aku kira tidak mungkin dulu. Sampe aku sadar Tuha itu maha besar sampe bisa membawa aku sampai dititik ini, oh iya saat bekerja disini aku juga punya kesempatan untuk membuat Pasport pertamaku, barang yang aku kira gak mungkin aku miliki, seakan-akan mimpi jadi kenyataan dan baiknya Tuhan lagi aku bisa membuat pasport untuk Indukku juga, sungguh berlimpah nikmat mu ya Allah, tak kusangka ini bisa jadi awal mimpi-mimpi ku terwujud sekaligus ingin membahagiakan Induk dengan mengajaknya jalan-jalan keluar negeri.

Tapi hamba tau ya Allah engkau adalah perencana terbaik, saat pasport kami sudah jadi, Negara ini diberi ujian Covid-19 yang mengerikan, semua negara seakan menutup semua pintunya, menyelamatkan diri mereka masing-masing. Jangankan mau liburan tempat kerjaku saja hampir lumpuh 90 % nya. Tapi hamba akan selalu berprasangka baik pada mu ya Allah.

I know you are the best planner in this world.
stay safe everyone, i know we can through this together.





0 Comentarios

Follow Me On Instagram