Uang oh Uang....

Photo by Katie Harp on Unsplash

Hello warga internet, masih ada gak sih yang baca blog? ya.. gimana ya setelah semakin banyak sosial media yang menjamur diinternet, masih ada gak ya yang blog walking gitu..

Uang..
ngomongin masalah uang, banyak hal yang ingin aku tulis sih ditopik kali ini, mungkin akan sedikit curhat juga *hihi. 

Well, aku kembali mengingat saat aku mengenal yang namanya "uang" saat aku bocah dan pada saat itu aku hanya berpikir bahwa uang itu gunanya untuk jajan dan beli ice cream. Aku masih ingat betul saat SD, ibuku selalu memasukkan uang receh di box bekas kaleng roti dan uang itulah yang aku ambil untuk jajan. 

Konsep aku mengenai uang waktu itu ya "mudah" untuk aku dapatkan karna tipikal Ibu aku bukan orang tua yang sering sembunyiin uang jauh-jauh yaa.. Jadi, konsep I want it I get it itu bisa diterapkan kala itu haha

Keadaan ini sempat berubah saat aku tinggal sama nenek, yang notabene gak akan semudah itu kasih uang untuk jajan, yang mana tempat persembunyian uang itu sungguh tidak terduga (karna nenek tau aku dan sepupuku sering "hunting" duit nenek untuk jajan) *tidak patut ditiru haha*. Tak jarang kami menyerah karna udah kelelahan mencari barang berharga itu. (Benar seperti harta karun)

Alhasil, waktu itu aku ngerasa uang susah banget untuk didapatkan, tapi ada beberapa hal yang aku lakukan untuk nyari uang, salah satunya adalah mencabut uban bibi-ku, bibi akan membayar upah sebesar Rp. 100/10 uban.

Iya, kalian gak salah baca ini beneran uban, karna permasalahan uban ini, bibi-ku rela merogoh kocek demi kenyamanan kepala nya. Tapi disitulah kami mendapatkan jalan untuk mencari rupiah untuk hanya sekedar membeli es lima ratusan. 

Aku akan pasang target dulu sebelum mencabut uban, setidaknya aku harus mencabut 50 uban sehari dengan bayaran Rp. 500 dan beli es kacang hijau yang sering dijual diwarung kecil dekat rumah. Bisa dibilang peluang kerja ini cukup menguntungkan bagi kami kala itu. 

Selain itu nenek sering menyuruhku berdagang disekolah, bayarannya cukup gede Rp. 2000-3000 jika laris dan habis, kalau enggak ya paling mentok Rp. 1500, lumayan lah pikirku kala itu.

Jadilah pagi-pagi nenek sudah membuat beraneka ragam makanan dari bakwan, bihun, sampai kripik dan kerupuk, yang rasanya tak perlu diragukan lagi.

Tugasku menjualnya kesekolah, karna semua siswa SMP di desaku rata-rata jalan kaki ke sekolah, walhasil dagangan ku sering laku sembari perjalanan ke sekolah, karna aku nentengnya terang-terangan banget sambil promosi tipis-tipis haha. 

Ada cerita lucu dibalik itu, karna setiap hari aku selalu bawa dagangan dan laku banget, sampailah suatu hari salah satu temen sekolahku nyeletuk "Ma, daganganmu emang enak-enak sih, tapi kok lama-lama porsi nya makin kecil ya?, apa perasaanku aja?"  aku langsung terdiam karna gak terlalu sadar hal itu, langsung lah aku bilang "Enggak lah, mungkin perasaan kamu aja, kayaknya minyak goreng lagi naik deh, makannya porsi nya segitu" jawabku sambil sedikit sotoy, karna jujur aku juga gak tau, apakah nenek menargetkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya hehe.

Tapi konsep keuangan masih jongkok banget diotakku waktu itu, aku memandang uang adalah sesuatu  yang sulit banget didapat. dan uang juga gak sepenting itu bagiku. (yang belum mengenal tagihan bulanan)

Nowadays, saat hidupku pelan-pelan dewasa dan punya penghasilan sendiri, aku memandang uang juga mulai berubah. Menurutku uang adalah alat yang sangat powerful, banyak orang bilang "Uang gak dibawa mati" tapi semua hal dihidup kita perlu uang bahkan matipun sekarang harus sewa tanah kuburan juga. yaps pake uang."

Sekarang kita tenang kalau punya uang tapi bakalan pusing banget kalo gak ada uangnya (apalagi ada hal yang tak terduga datang). Nunggu gajian yang hanya sekali sebulan aja lamanya minta ampun, coba deh ngabisinnya cepat banget. 

Semua hal besar dan kecil bisa hancur cuman karna uang. Keluarga bisa saling bacok karna uang, teman bisa musuhan karna uang, bahkan anak bisa benci orang tuanya karna uang dan sebaliknya. Kurang powerful apa lagi ya kan. (Bisa setara ama setan jobdesc nya)

Uang bisa membeli kenyamanan and it's true sih menurutku. Aku pernah diposisi dimana untuk memenuhi kebutuhan dasar aja susahnya minta ampun, aku harus rela menukarkan waktuku yang begitu panjang untuk memenuhi kebutuhan primer aja, meliputi makan, tempat tinggal, transportasi. benar-benar yang essential aja. 

Dan kalian tau apa yang aku rasa? yaps, gak ada kenyamanan sama sekali, gak ada waktu untuk bersyukur, gak ada waktu untuk melakuakan hal lain selain kerja dan nyari duit, karna kalo enggak gak tau mau bayar kos pake apa.

Akhirnya semua hal baik yang dulu ditanam dan dipupuk didalam diri dengan sepenuh hati seperti  berpikiran positif, merawat diri, explore hobi dan lainnya seolah terlupakan dan harus ditinggalkan karna aku harus nyari duit buat makan. This is the prove kalau uang bisa beli kenyamanan. kita bisa nyaman dan melakukan hal yang lain kalau needs primer kita udah terpenuhi dulu, baru bisa explore ke hal lainnya.

Yah, mungkin tulisan ini terdengar money oriented, tapi memang hal yang paling berharga didunia ini yaitu uang dan waktu, jadi quote time is money is fucking right. dimana kita bisa nukar waktu yang kita punya untuk mendapatkan uang dan dengan uang itu kita bisa bayar semua bills yang kita punya, sehingga kita ngerasa nyaman menjalani hidup ini.

Well, point dari tulisan ini adalah selalu syukuri uang yang kita punya sekarang, kelola sebaiknya, pakai sebijaknya. karna banyak diluar sana yang gak punya previlage itu dan harus nukar waktunya yang banyak untuk mendapatkan uang dan membayar bills mereka. 

Kalau kita masih bisa memenuhi kebutuhan dasar dan bahkan masih bisa melakukan hal lain yang kita sukai tanpa terlalu khawatir akan uang dan waktu, beruntung lah kita dan syukuri sebanyak-banyak nya. Well, I have to grateful too for my life.  Selalu ingat rasanya saat uang itu tak ada ditanganmu. Sekarang saat ada digenggamanmu gunakan dia dengan baik. 

Semangat para pejuang cuan!! hehhehe

0 Comentarios

Follow Me On Instagram