Si Anak Jendral

Photo by Jed Villejo on Unsplash

Jam menunjukkan jam 04.00 PM, aku baru pulang kampus dan makan Tango wafer chocolate. Tiba-tiba aku pengen nulis blog dan mendapat inspirasi dari cerita “si anak jendral” ini, sebelum aku menceritakan kepada kalian siapa si anak jendral ini, ada baiknya aku meminta izin dulu padanya untuk kutuliskan ceritanya melalui blog ini. Ehm, “anak jenderal, izin yaa. Mau nulis ceritamu dari sudut pandangku untuk mengisi blog sepi ini” hehe.

“Ya, aku kan anak Jendral” , itulah yang ia ucapkan waktu itu dilanjutkan dengan gelak tawa teman-temanku yang lain saat mendengarkannya. Percakapan seperti ini selalu terulang dan mewarnai hari-hariku, kami selalu membicarakan hal yang gak berfaedah dan selalu menggelitik perut untuk tertawa. Dia adalah sosok yang sangat ceria, apa yang dikatakannya selalu saja ia bawa dengan kata-kata lucu yang membuat orang tidak bosan berteman dengannya. Dia pandai membawa suasana, masih teringat dibenakku saat ia menaklukkan dosen killer, dimana ibuk itu selalu marah dan moody dengan mahasiswa dan suatu hari kami ingin menemui dosen itu untuk mengajukan judul skripsi, aku cukup takut dimarahi olehnya dan takut mood-nya lagi jelek saat itu. Saat kami menunggu didepan ruangan bagian aku diminta untuk mengambil air panas oleh salah satu dosen, dan saat ku kembali, ternyata si anak jendral sudah masuk kedalam ruangan tersebut. Ketika aku hendak masuk banyak pikiran negative yang mengangguku, gimana kalo judul kami ditolak?, gimana kalo dosen tersebut nanya macem-macem?, gimana kalo disemprot?. Aku beranikan diri masuk keruang tersebut dan kalian tau apa yang terjadi? Dosen tersebut sedang tertawa dengan anak jendral dan asyik ngobrolin “Berat Badan”, aku cukup terpelongo saat itu. Setelah asyik tertawa Dosen itu lalu meng-ACC judul kami tanpa pertanyaan apapun. Beruntungnya kami.

Lagu iwan fals-ibu mendayu merdu sembari aku menulis cerita ini *maaf ini gak nyambung.

Harus ku akui si anak jendral itu adalah orang yang sering beruntung atau bahasa kerennya “bejo woman” (keren gak?). Mengapa? Aku juga gak tau kenapa. Yang pasti ia selalu beruntung di beberapa kondisi, saat itu kami masih semester 3 dan akan mengadakan UAS (Ujian akhir semester) salah satu mata kuliah *aku lupa mata kuliah apa, pada waktu itu kami (read: 5 serangkai) mempersiapkan UAS dengan matang melalui teknik SKS (sistem kebut semalam) namun ia hanya santai tanpa belajar apapun, dengan alasan “aku gak bisa ngapal malam, setelah aku tidur. besoknya semua yang aku apal bakalan ilang”. Masuk akal? Ya, masuk akal sekali. Dan besoknya menjadi hari yang baik sekaligus buruk, kenapa? Karena ujiannya open book. Udah ah, gak tau mau bilang apa lagi.

Bukan cuman cerita diatas, cerita lainnya saat ia ngajak kami untuk gak masuk kuliah waktu itu. Dia bilang dengan yakin “kayaknya dosen gak masuk nih, aku gak kuliah deh, ngantuk’. Aku langsung gak sepaham dengannya (read:anak rajin) dan nekat kuliah sendirian, dan emang dosen gak masuk. Udahlah, jangan bilang aku sok-sok’an ya.

Ia juga adalah anak yang santai, aku ingat banget saat kami dikasih tugas meresume buku yang panjangnya nauzubillah, aku nulis tugas itu lebih setengah buku kiky yang tebel dan temen yang lainnya juga sama, dan ia cuman nulis 10 lembar, ia slow aja tanpa gelisah sedikitpun, dan emang tugas itu gak dikoreksi sama sekali apalagi dilihat berapa lembar kita ngeresumenya.
“kupu-kupu malam” karena keluyuran terus malam-malam, “capung maghrib” dan “wanita ja**ng” adalah beberapa gelar yang pernah ia sandang.

Tapi dibalik semua itu,  aku ngucapin terimakasih melalui tulisan ini untuk si anak jendral. Terimakasih udah jadi temen yang gak bosen-bosen ngingetin dan ngajarin aku biar gak lelet (read: cik late). Dan udah kasih tips dan tricks gimana memanage waktu biar gak telat ke kampus. (penting gak sih?)

Thankyou udah selalu ngingetin aku biar gak terlalu pusing sama suatu hal dan tetep syukurin dan cintain apa yang udah kita punya. Sebenarnya saat itu aku juga sadar “kalo kita bersyukur, Allah akan memberi lebih”

Untuk anak jendral yang cita-citanya pengen langsung nikah setelah wisuda, keep being yourself, makasih udah ngehibur kami, makasih udah menjadi seseorang yang lebih berpikiran dewasa dalam beberapa kondisi. Dan jangan malas-malasan, jangan takut sendirian (pernah kelaparan karena gak makan dikantin sendirian wkwk), Semoga bisa wisuda bareng dan semoga kita menjadi orang-orang sukses dibidangnya suatu saat nanti, amin.

Oya, semoga cepat nikah. (kan undangannya udah dicetak, tinggal diisi nama suaminya) haha.

Nasehat yang berfaedah:
“Satu hari menunda skripsi sama dengan menunda pernikahan”







0 Comentarios

Follow Me On Instagram