Akhir-akhir ini kata "Netizen" gak asing lagi terdengar dikalangan pengguna Sosial Media termasuk aku, "Netizen" artinya adalah warganet atau warga internet, orang-orang yang aktif menggunakan internet.
Di era Sosial Media seperti sekarang ini, banyak hal yang bisa kita lakukan hanya dengan menggunakan smartphone, istilah kerennya "Dunia dalam genggaman". tercatat aktivitas sosial media lebih banyak dilakukan manusia modern di bandingkan dengan aktivitas interaksi langsung dengan orang lain walaupun itu hanya sekedar mengecek timeline sosial media.
Menurutku Sosial Media itu adalah sarana yang keren banget, kita bisa cari apapun disitu, kita bisa menemuka Facebook, Instagram, Twitter teman lama kita hanya dengan mengetik nama mereka di pencarian, walaupun kita sudah lama tak menghubunginya. kita gak usah repot-repot untuk sekedar mencari tahu harga barang yang kita butuhkan dan dimana barang itu dijual, hanya dengan mencarinya disosial media semuanya tersedia untuk anda.
Dampak positive lainnya yang aku lihat yaitu, Eksistensi. sekarang untuk eksis dan dikenal banyak orang gak perlu menjadi artis yang mondar mandir di TV, dengan sosial media kita bisa meng-share semua bakat yang kita miliki, sehingga banyaklah bermunculan Selebgram-selebgram yang penghasilannya tidak kalah dengan artis-artis TV.
Namun dari semua kemudahan yang kita rasakan, masih banyak juga netizen yang gak bijak dalam menggunakan sosial media, jika sosial media digunakan untuk hal positive, berbagi kebaikan ataupun untuk mencari uang dengan cara berbisnis online sih fine-fine aja. Tapi, jika sosial media digunakkan untuk hal negatif, untuk mengumbar kebencian bahkan untuk memecahbelahkan suatu kaum, ini bisa menjadi bumerang besar. sangking kerennya sosial media, semua orang punya hak yang sama dalam membuat akun mereka, banyak orang yang membuat akun dengan identitas asli dan bahkan banyak juga yang menggunakan identitas palsu yang sering digunakan untuk mencibir orang-orang lainnya di sosial media agar aman jikalau suatu saat akunnya diselidiki. Aku sering kepo dengan instagram-instagram artis dan sering banget baca komentar yang ditulis netizen, dari semua komentar masih banyak Haters yang selalu mencibir apapun yang dilakukan artis tersebut, semua yang dilakukannya salah dimata haters. mereka berani langsung mencibirnya sampai-sampai memboikot seorang artis, maksud aku, what the hell! banyak banget tindakan menghakimi sendiri di dunia maya, merasa bahwa mereka selalu benar.
fenomena yang miris lainnya, banyaknya bermunculan akun-akun yang gak berfaedah, isinya meng-gibah kehidupan orang lain semua, dan buruknya lagi mereka malah di blow-up sampe masuk TV seolah yang mereka lakukan adalah sebuah prestasi besar yang harus dihargain. melihat satu akun sukses dengan konsep gibahnya banyak lagi akun-akun lain yang mengusung tema yang sama menjamur. pertanyaanku, bagi yang punya akun dan yang suka ngomongin kehidupan orang lain, gimana rasanya kejelekan kita yang gak pengen kita umbar malah di publish orang lain, bukan hanya pada satu akun tapi akun-akun lainnya ikut nge-repost sehingga kejelekan itu tersebar kemana-mana. bukannya kejelekan seseorang itu harus kita tutupin ya? sama seperti Allah nutupin aib kita. Bukannya rasul kita ngajarin kalo ada temen kita berbuat sesuatu kejelekan, kita tegur dia tapi dibelakang bukan didepan orang-orang apalagi di dunia maya, yang mana semua orang bisa ngaksesnya sampe bertahun-tahun kemudian?.
norma-norma yang dulunya dijunjung aku lihat udah jauh berubah, banyak hal-hal yang dulu dilarang ibu kita, nenek kita, orang tua kita lakuin. tapi sekarang orang-orang belomba-lomba untuk melakukannya. Ya, jangan heran anak-anak sekarang berkelakuan aneh-aneh yang kita rasa tidak sesuai lagi dengan norma-norma timur yang selama ini kita patuhi. toh, setiap hari mainan mereka buka sosmed terus, lihat gosip terbaru, nonton tutorial make-up, dan yang paling gak penting yaitu nontonin video slime atau apalah itu yang menurutku gak ada faedahnya sama sekali, tapi bisa jadi trend anak-anak sekarang.
kalo ditanya, mungkin mereka gak bakalan tau permainan selayaknya anak-anak dulu, permainan terseru waktu dulu kayak congklak yang secara gak langsung ngelatih ketelitian kita, main petak umpet, serunya main masak-masakan dimana kamu harus keliling-keliling dulu cari daun-daun yang bisa dijadiin sebagai alat masak, main gasing sampe main yaoma-yaoma yang secara gak langsung permainan itu tempat kita bersosialisasi. Tapi sekarang sepi, anak-anak asyik main sendiri di dunia maya. asyik dengan smartphone nya masing-masing. malahan gak terdengar lagi mereka sanling jemput-jemputan cuman mau main layangan di lapangan, yang ada sekarang, mereka kumpul cuman untuk tukaran game terbaru, see!, kasian sih menurut aku. mereka gak sadar kalo masa kecil mereka gak dinikmati sebagaimana seharusnya, yang pasti masa kecil mereka gak seseru masa kecilku.
untuk menyelesaikan masalah ini cukup sulit, karena tipikal orang indonesia kalau udah terbiasa dengan suatu kebiasaan susah untuk mengubahnya. kalaupun mereka mau, mereka harus berusaha cukup besar untuk menahan membeli smartphone untuk anak cuman karena teman sepermainan mereka punya smartphone semua. tapi, seperti yang kubilang cukup sulit untuk melakukannya.
fenomena yang miris lainnya, banyaknya bermunculan akun-akun yang gak berfaedah, isinya meng-gibah kehidupan orang lain semua, dan buruknya lagi mereka malah di blow-up sampe masuk TV seolah yang mereka lakukan adalah sebuah prestasi besar yang harus dihargain. melihat satu akun sukses dengan konsep gibahnya banyak lagi akun-akun lain yang mengusung tema yang sama menjamur. pertanyaanku, bagi yang punya akun dan yang suka ngomongin kehidupan orang lain, gimana rasanya kejelekan kita yang gak pengen kita umbar malah di publish orang lain, bukan hanya pada satu akun tapi akun-akun lainnya ikut nge-repost sehingga kejelekan itu tersebar kemana-mana. bukannya kejelekan seseorang itu harus kita tutupin ya? sama seperti Allah nutupin aib kita. Bukannya rasul kita ngajarin kalo ada temen kita berbuat sesuatu kejelekan, kita tegur dia tapi dibelakang bukan didepan orang-orang apalagi di dunia maya, yang mana semua orang bisa ngaksesnya sampe bertahun-tahun kemudian?.
norma-norma yang dulunya dijunjung aku lihat udah jauh berubah, banyak hal-hal yang dulu dilarang ibu kita, nenek kita, orang tua kita lakuin. tapi sekarang orang-orang belomba-lomba untuk melakukannya. Ya, jangan heran anak-anak sekarang berkelakuan aneh-aneh yang kita rasa tidak sesuai lagi dengan norma-norma timur yang selama ini kita patuhi. toh, setiap hari mainan mereka buka sosmed terus, lihat gosip terbaru, nonton tutorial make-up, dan yang paling gak penting yaitu nontonin video slime atau apalah itu yang menurutku gak ada faedahnya sama sekali, tapi bisa jadi trend anak-anak sekarang.
kalo ditanya, mungkin mereka gak bakalan tau permainan selayaknya anak-anak dulu, permainan terseru waktu dulu kayak congklak yang secara gak langsung ngelatih ketelitian kita, main petak umpet, serunya main masak-masakan dimana kamu harus keliling-keliling dulu cari daun-daun yang bisa dijadiin sebagai alat masak, main gasing sampe main yaoma-yaoma yang secara gak langsung permainan itu tempat kita bersosialisasi. Tapi sekarang sepi, anak-anak asyik main sendiri di dunia maya. asyik dengan smartphone nya masing-masing. malahan gak terdengar lagi mereka sanling jemput-jemputan cuman mau main layangan di lapangan, yang ada sekarang, mereka kumpul cuman untuk tukaran game terbaru, see!, kasian sih menurut aku. mereka gak sadar kalo masa kecil mereka gak dinikmati sebagaimana seharusnya, yang pasti masa kecil mereka gak seseru masa kecilku.
untuk menyelesaikan masalah ini cukup sulit, karena tipikal orang indonesia kalau udah terbiasa dengan suatu kebiasaan susah untuk mengubahnya. kalaupun mereka mau, mereka harus berusaha cukup besar untuk menahan membeli smartphone untuk anak cuman karena teman sepermainan mereka punya smartphone semua. tapi, seperti yang kubilang cukup sulit untuk melakukannya.
0 Comentarios